EDELWEISS
Petiklah untukku walau hanya setangkai
Aku adalah wanita, namun
aku belum menjadi wanita seutuhnya. Orang-orang yang melihatku mungkin merasa
bahwa aku sempurna tanpa secuil kekurangan, namun itu hanyalah penglihatan
mereka saja, tanpa tahu diriku yang sebenarnya. Aku selalu merasa bahwa tuhan
tak begitu adil memberiku takdir yang harus kujalani seperti ini, dari luar
fisikku begitu sempurna, rambut panjang tergerai indah hitam berkilau, hidung
mancung dan kulitku yang putih. Tetapi tidak dengan organ dalamku, saat mereka
bertahan hidup dengan jantung sehat yang mereka miliki, aku bertahan hidup
dengan obat-obatan yang teramat membuatku kenyang, dan membuatku selalu ingin
muntah.
“jo..” tiba-tiba suara
itu mengagetkanku yang sedari tadi melamun.
“oh mama...” kataku
dalam hati.
“masuk nak, diluar
dingin kamu nanti bisa sakit ingat kesehatanmu”.
“ma.. Jo itu sehat, mama
tidak usah khawatir padaku” kataku sambil berlalu meninggalkan mama.
Ada rasa kecewa terbersit dihati ini, mendengar kalimat mama yang selalu
ia lontarkan padaku bahwa aku harus mengingat kesehatanku, tak bisakah sedikit
saja menganggapku seperti orang-orang normal lainnya?, yang tak pernah ditegur
jika berada di luar?, tak pernah dipaksa menggunakan jaket bila hujan tiba?,
sampai kapan aku harus mengurung diriku untuk tidak menikmati setiap indahnya
dunia?, walau hanya untuk merasakan tetesan hujan saja?, aku iri pada mereka
yang bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu jalan, duduk di tepi
pantai, menikmati deru ombak yang saling merangkul seakan menari bahagia
menikmati hidupnya. Seringkali aku berharap pada tuhan jika tak ada sesuatu
yang membuatku menjadi kuat, aku ingin secepatnya kembali ketempat dimana
seharusnya aku kembali.
*pagi
Aku terbangun dari
mimpiku, seperti biasanya aku selalu lupa dengan apa yang aku mimpikan, aneh
bukan? Yah itulah aku, sejenak aku duduk di pinggir tempat tidurku menikmati
setiap hangatnya cahaya matahari yang masuk dari celah-celah gorden kamarku,
ya.. aku selalu melakukan ritual ini, aku selalu menikmati apa yang ada di
sekelilingku, karena aku tahu, suatu saat aku tak bisa menikmatinya lagi.
Kulihat wajahku dicermin dan mengabsen setiap inci atribut yang kugunakan takut ada yang salah, mengingat
peraturan di Sekolah ku begitu ketat.
“ma.. pa Jo pergi dulu
yah” kataku sambil mencium pipi papa dan mama.
“eh Jo name tag kamu ini
ketinggalan nak!”.
“ya ampun pantas Jo rasa
ada yang kurang” kataku menghampiri mama dan mengambil name tag ku.
Ku pasang name tag itu pada seragam putih yang aku kenakan dengan balutan
jas berwarna hitam, kutatap name tag ku sekali lagi, tertulis disana nama yang
indah yang diberikan oleh mama 18 tahun yang lalu “JOLANDA”.
Hari ini begitu melelahkan
untukku seharian belajar dan belajar,
ya.. aku dilarang mengikuti ekstrakurikuler di Sekolah karena, penyakit jantung
yang aku derita, jadi apalagi yang aku lakukan di Sekolah ini jika bukan
belajar?, sungguh membosankan. Hari ini cuaca mendung, sepertinya hujan akan
turun sebentar lagi, terpaksa aku menunggu di dalam sekolah saja, aku takut
menunggu di luar, mama selalu mengingatkanku untuk berhati-hati. Sepertinya ini
akan lama, lantaran om Andi baru saja menelponku menginformasikan bahwa ban
mobilnya bocor dan ia sedang berada di bengkel. Om Andi adalah saudara papa,
yang juga seorang dokter pribadiku, hari ini papa menyuruh om Andi untuk
menjemputku sekaligus untuk mengecek kondisiku, entahlah rasanya aku tak ingin
mendengar apa-apa darinya, karena bila om Andi memeriksa keadaanku, aku tak
pernah mendengar perubahan dalam diriku, mungkin apa yang aku harapkan sungguh
mustahil.
“Belajar terus..” kata
seorang pria yang entah siapa tiba-tiba berada di belakangku
“kau siapa?, sejak kapan kau ada di sini?”tanyaku heran.
“itu tak penting, kau
tahu? Buku itu sudah sangat bosan melihatmu”ejeknya.
Aku hanya terdiam mendengar kalimat pria itu, ya.. mungkin memang benar
buku ini sudah sangat bosan melihatku, aku pun juga sama sepertinya.
“Aku Jolanda.. panggil
saja aku Jo..” kataku menyambut uluran tangannya.
Seketika hening, dia menatapku begitu lama meski tangan kami sudah tak
saling berjabat, jantungku tiba-tiba berdetak kencang, apakah dia mendengar
suara jantungku?, oh tuhan.. semoga saja tidak.
“K..kau mengapa
menatapku seperti itu?” kataku gugup.
“Mengapa kau selalu
mengurung dirimu?, apa kau tidak suka melihat dunia?,hei dunia itu indah, sementara kau hanya mengenal buku saja”.balasnya
Aku hanya tersenyum dan menatapnya, jika saja aku seperti orang normal
aku akan menjelajahi setiap inci dunia ini.
“Kau tak tahu diriku,
kau bahkan baru mengetahui namaku saja.Pernahkah kau melihat seekor
kupu-kupu yang kehilangan separuh dari sayapnya?, ia sangat ingin terbang seperti kupu-kupu lain, tapi ia tak
memiliki sayap yang normal. Apa kau tahu bagaimana perasaan sang kupu-kupu? Yang ingin
terbang bebas mengelilingi dunia namun tak bisa, lantaran sayap yang ia miliki
telah hilang sebagian?, itu sangat menyakitkan” jawabku.
Ia menatapku dengan wajah bingungnya, aku tahu ia tak akan mengerti
dengan ucapanku. Suatu saat aku yakin dia pasti akan mengetahuinya tanpa aku
yang memberitahu. Kutatap langit yang mulai gelap, menandakan sebentar lagi
akan turun hujan. Kulihat Riki tak berada di sampingku lagi, ia sedang bermain
bersama bola basketnya. Ya.. ternyata Riki adalah ketua basket di Sekolahku,
sungguh hidupku begitu sempit hingga hal sekecil ini pun tak ku ketahui.
“Jolanda.. mengapa kau
melihatku saja?, lawan aku”teriaknya, memanggilku.
“Aku tak bisa bermain
basket, aku tak tahu bagaimana caranya” terIakku padanya.
“Nanti ku ajar!”
balasnya lagi.
Aku tertawa, rasanya begitu lucu Aku dan Riki seperti berada di hutan saja berbicara dengan
suara yang keras. Ketika aku ingin melangkahkan kakiku ke lapangan tempat Riki
bermain basket, tiba-tiba turun hujan dari langit yang mulai menghitam tadi, ku
urungkan niatku untuk bergabung bersama Riki dan memilih duduk melihat setiap
tetesan hujan yang jatuh ke tanah tempatku bernaung. Riki menghampiriku dengan
bajunya yang sudah mulai basah.
“mengapa kau tidak
menghampiriku?, ayo”ajaknya.
“tapi..”
Belum sempat aku berbicara aku sudah ditarik olehnya, dan sekarang aku
dapat merasakan guyuran hujan, ya aku merasakannya hal yang tak pernah aku
rasakan. Aku menutup mataku dan merentangkan kedua tanganku, ini begitu indah
aku merasa seperti bebas sekarang seakan lupa dengan jantungku yang terkadang
tiba-tiba melemah.
“kau senang?”
“ya, ini adalah hari
pertamaku berada di bawah guyuran hujan,”kataku dengan mata yang masih tertutup, tanpa memperdulikan Riki
yang mungkin berada di sampingku.
Kurasakan dingin menyelimuti kulitku, hembusan angin yang begitu menenangkan,
juga tetesan hujan yang membawa kesejukan. Kurasakan tanganku tidak sendiri
lagi, ada seseorang yang menggenggamnya. Aku merasa bahwa itu adalah Riki,
aroma parfumnya sama, aku masih mengingatnya ketika ia berada di sampingku, aku
tak ingin melepaskan genggaman ini.
“tuhan.. jangan Kau
ambil diriku begitu cepat, aku masih ingin menikmati saat-saat seperti ini, bersama orang yang entah mengapa
membuat jantung ini selalu berdetak dengan keras, tapi tak membuatnya menjadi
lemah, setiap kali bersamanya”.
seketika air mataku mulai menetes, inikah jawaban dari setiap doa ku?,
inikah kekuatan yang Engkau kirimkan untukku?
Continued....